Cerpen: Cerita Malam di Medan,Tukang Parkir yang Bikin Kaget

Cerpen: Cerita Malam di Medan,Tukang Parkir yang Bikin Kaget

 

           Foto: Tangkapan Layar Google 


Oleh Mukhlis,S.Pd.,M.Pd.

Pada tengah malam yang sepi, aku baru saja mengendarai mobilku di jalan Gajah Mada, sebuah kawasan yang selalu ramai dengan kehadiran orang-orang Aceh. 

Di sini, hampir setiap orang yang berasal dari Aceh pasti merasa bahwa Medan belum lengkap tanpa singgah sejenak di tempat ini.

Baca Juga: Setelah Ayah Menikah Lagi

Ada semacam magnet yang menarik mereka, seolah tempat ini sudah menjadi bagian dari perjalanan mereka ke kota ini.

Sesampainya Aku di sana, Aku merasa lelah setelah perjalanan jauh dan ingin berhenti untuk sekadar beristirahat, meski malam semakin larut.

Tiba-tiba, seorang tukang parkir menghampiriku dengan langkah ringan. Ia menghentikan langkahnya begitu melihatku keluar dari mobil.

"Kenapa mobilnya, Bang?" tanyanya, suaranya terdengar penuh perhatian, meskipun jam sudah begitu larut. Aku menoleh dan melihatnya dengan ragu.

Baca Juga: Kenangan yang Tak Terlupakan

Kulepaskan pandangan ke arah mesin mobil yang kini mulai menunjukkan gejala masalah. “Aki mobilku mendidih,” jawabku sambil menunjuk bagian aki mobil yang mulai berasap.

Mataku menatapnya dengan cemas, sementara tukang parkir itu memandangku dengan sorot mata yang tajam, seolah mencoba menilai situasi.

Melihat sikapnya yang tenang, Aku merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Biasanya, orang yang berprofesi sebagai tukang parkir pada malam hari seperti ini akan lebih memilih untuk tidur atau sekadar duduk santai di pojokan. 

Tapi pria ini, meski usianya tampak lebih tua dari perkiraanku, masih tampak terjaga. Pakaian yang Ia kenakan tampak kumal, namun tubuhnya  sedikit canggung tak mampu menyembunyikan rasa lelah yang tampaknya sudah cukup lama Ia tanggung. 

Di lehernya, ada peluit yang tergantung, terlihat kusam dan mulai usang, namun tetap dibunyikan setiap dua menit sekali untuk mengatur mobil-mobil  keluar masuk dari swalayan yang terletak tak jauh dari tempatku berdiri.

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya yang langsung mengenai masalah mobilku, seolah-olah Dia sudah memahami masalah itu sebelum Aku sempat menjelaskan lebih lanjut.

Baca Juga: Terdakwa Jalanan

"Bang, boleh pinjam kunci sepuluh pas?" tanyaku, mencoba meminta bantuan. Mesin mobilku mengeluarkan bau hangus yang  menyengat, menambah kecemasanku. 

Aku berusaha membuka tutup mesin, berharap menemukan penyebabnya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku.

Tukang parkir itu langsung merespon dengan cepat, "Ada, Bangda!" jawabnya dengan suara yang agak berat, namun jelas terdengar ada harapan yang tersirat dalam suaranya.

 Sepertinya dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baginya,  peluang yang mungkin bisa menambah sedikit rezeki untuk malam itu. 

Dalam hatiku, Aku merasa sedikit lega karena sepertinya Dia tahu apa yang harus dilakukan.

Tanpa menunggu lama, Ia berjalan ke arah tukang becak yang sedang duduk di pojokan kios yang sedang merenung menunggu orang yang membutuhkan jasanya. 

Dengan nada yang sedikit tegas, tukang parkir itu berkata, "Hey, minta tolong Kau belikan air aki untuk mobil teman kita dari Aceh!" (Begitulah gaya khas bahas Orang medan asli yang bercampur dengan logat melayu) . Aku terkejut mendengar kata-kata itu.

Aku membatin "Jam segini, mana ada bengkel yang buka?" Dalam kebingunganku, Aku melihat istriku dan anakku  sedang menunggu di dalam mobil. 

Mereka menatapku dengan penuh kecemasan, seolah mereka pun merasakan kekalutan yang kurasakan.

Namun, di sinilah letak keunikan  warga Medan. Di tempat seperti ini, masalah bisa diselesaikan dengan cara yang tak  terduga. 

Tukang becak itu segera bergegas, meskipun Aku tidak tahu bagaimana Dia bisa mendapatkan air aki pada jam empat pagi. 

Yang pasti, dengan segala upaya dan kekreatifannya, Dia berhasil mendapatkan apa yang diperlukan. 

Aku pun merasa sedikit tenang. Tidak ada yang lebih baik saat itu selain bisa melanjutkan perjalanan dan menghindari masalah yang lebih besar.

Tak lama kemudian, masalah selesai begitu saja. Aku merasa sangat lega dan bersyukur. Aki mobil yang sebelumnya bermasalah kini telah diganti, dan perjalanan bisa segera dilanjutkan. 

Aku tidak lagi merasakan kecemasan yang begitu mencekam. "Berapa ongkosnya, Bang?" tanyaku, berusaha menghargai segala bantuan yang telah diberikan oleh tukang parkir dan tukang becak itu.

Dengan sikap yang sangat rendah hati, tukang parkir itu hanya menjawab dengan santai, "Alaah, Bang, kasih saja berapa pun, yang penting Abangda sudah bisa lanjut perjalanan."

 Aku terkesan dengan sikapnya yang begitu tulus. Tidak ada sedikit pun rasa pamrih dalam suaranya. Aku merasakan ada nilai kemanusiaan yang begitu kental dalam dirinya, meskipun ia hidup di tengah-tengah kerasnya kehidupan jalanan.

Aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan selembar uang biru yang aku rasa cukup untuk menghargai bantuan mereka. 

Namun, ketika Aku menyodorkan uang itu kepadanya, Ia sedikit terkejut. Badannya yang sedikit membungkuk menerima lembaran uang itu dengan senyuman yang tulus. 

“Terima kasih, Bang, semoga perjalanan lancar,” katanya, seolah sudah tidak ada lagi masalah yang mengganjal. 

Setelah itu, Ia pun menghilang begitu saja, menyatu dengan pagi yang mulai datang.

Saat itu, suara adzan subuh mulai terdengar dari kejauhan, menandakan bahwa hari baru sudah dimulai. Hari yang penuh dengan harapan baru, dan masalah yang telah teratasi memberikan rasa lega yang mendalam. 

Aku merasa bahwa malam itu Aku tidak hanya berhasil menyelesaikan masalah teknis pada mobilku, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga tentang kebaikan hati dan kesediaan orang-orang di sekitar untuk membantu, meski dalam keadaan yang tampaknya tidak memungkinkan.

Kehidupan di Medan, dengan segala keberagaman dan keramaian yang ada, memberikan banyak cerita menarik. Cerita-cerita tentang orang-orang yang hidup di jalanan, dengan cara mereka sendiri menghadapi segala tantangan hidup. 

Di balik pekerjaan mereka yang tampaknya sederhana, ada nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat. Dalam malam yang sunyi itu, Aku merasa tersentuh oleh keramahan orang-orang yang bertemu di jalan. 

 Tanpa pamrih memberikan bantuan di saat yang paling dibutuhkan. Mungkin ini adalah bagian dari keindahan hidup yang tidak selalu tampak di permukaan, namun selalu ada di setiap langkah kita.

Dan saat fajar mulai menyingsing, aku melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih ringan, berterima kasih atas segala bantuan yang telah aku terima. 

Perjalanan itu bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang menghargai setiap orang yang kita temui di sepanjang jalan.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Jurnal Aceh Edukasi dan Guru SMA Negeri 1Lhokseumawe 

Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar