Fenomena Penyimpangan Bahasa Indonesia: Dari Media Massa hingga Percakapan Sehari-hari

Fenomena Penyimpangan Bahasa Indonesia: Dari Media Massa hingga Percakapan Sehari-hari



Sumber: Dokumen  Pribadi

Bahasa memiliki peran sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, serta perasaan kepada orang lain. 

Namun, dalam praktiknya, tidak semua orang menyadari bahwa bahasa bukan  hanya sekadar alat untuk berbicara, tetapi juga mencerminkan identitas dan budaya suatu bangsa. 

Bahasa yang digunakan dengan baik dan benar akan mencerminkan kecerdasan serta kepekaan seseorang terhadap lingkungannya. 

Sebaliknya, penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah dapat menimbulkan kesalahpahaman, bahkan akan menghasilkan komunikasi yang tidak  efektif.  

Di negeri ini, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seharusnya menjadi kebanggaan nasional. Namun, realitas menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap bahasa Indonesia hanya sebagai alat komunikasi  tanpa memperhatikan kaidah dan estetika berbahasa. 

Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya bahasa yang baik dan benar menyebabkan berbagai bentuk penyimpangan dalam penggunaannya, baik dalam kehidupan sosial, media massa, maupun dunia pendidikan.

Sangat penting bagi pengguna bahasa untuk memahami dan menerapkan penggunaan bahasa yang kreatif. Hal ini dinutuhkan  agar bahasa Indonesia tetap berfungsi optimal sebagai sarana komunikasi yang efektif bukan hanya sebagai identitas bangsa.  

Bahasa sebagai Alat Komunikasi dan Identitas Bangsa

Harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap bahasa Indonesia hanya sebagai alat komunikasi antarwarga bangsa.

Bahasa hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Karena menganggap bahasa hanya sebagai alat penyampai informasi, kelompok ini berprinsip bahwa yang penting orang lain memahami maksudnya.

Akibatnya, kelompok ini mengabaikan kaidah bahasa serta tidak memiliki sikap positif dan daya cipta (kreativitas) dalam berbahasa. Kalaupun berkreasi, mereka tidak mengindahkan kaidah bahasa, sehingga hasil kreasinya sering kali memunculkan tafsir yang bertentangan dengan tujuan mereka.

Program pengentasan kemiskinan, misalnya, pada awalnya tentu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kemiskinan di negeri ini. Namun, dengan digunakannya kata "pengentasan," program tersebut kini dapat ditafsirkan sebagai "mengangkat" kemiskinan, bukan membasminya.

Sebagaimana telah dikemukakan oleh para ahli, selain memiliki fungsi informatif dan ekspresif, bahasa juga memiliki fungsi direktif, estetik, dan fatik. Ketiga fungsi bahasa yang disebut terakhir inilah yang kini sering dilupakan, padahal sangat menentukan keberhasilan komunikasi.

Barangkali hal ini pula yang menjadi penyebab penggunaan istilah yang lebih halus untuk menggambarkan sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti "tunakarya" untuk pengangguran, "tunawisma" untuk gelandangan, dan "tunarungu" untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran. 

Demikian pula dalam istilah hukum, "meja hijau" menggantikan istilah pengadilan, "terali besi" untuk penjara, serta "meninggal dunia" sebagai penghalusan dari kata mati. 

Selain itu, untuk menunjukkan rasa hormat, kata "kamu" sering kali digantikan dengan "Saudara," "Anda," "Bapak," "Tuan," dan sebagainya.

Kesalahan dalam Penggunaan Bahasa

Sangat disayangkan, kesadaran akan kreativitas berbahasa seperti itu sering tidak diikuti dengan kesadaran akan kecermatan berbahasa. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika bentuk bahasa yang dihasilkan sering membingungkan.

Dalam proses penangkapan tersangka, misalnya, polisi sering kali menggunakan kekerasan. Anehnya, peristiwa itu sering dikatakan dengan frasa "polisi telah mengamankannya," padahal rasa aman itu belum tentu diperoleh oleh tersangka.

Dalam kasus lain, sikap kurang positif terhadap bahasa Indonesia juga banyak ditunjukkan oleh para pengisi siaran di media massa elektronik. Dalam sebuah wawancara, pewawancara (A) menanyakan rencana pernikahan kepada narasumber (B) dengan pertanyaan, "Calon sudah ada, lalu kapan Anda menikah?"

Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber (B) dengan santai menjawab, "Wah, kalau soal itu, mungkin kita menikah tahun depan."

Jawaban ini menunjukkan bahwa narasumber sudah memiliki rencana pernikahan, meskipun belum ada kepastian mengenai tanggal pastinya.

Selain gemar menghiasi bahasa Indonesia dengan kata-kata asing (terutama bahasa Inggris), mereka juga sering melakukan penyimpangan bahasa. Kata ganti "kita," misalnya, telah disalahgunakan untuk menggantikan kata "saya" atau "kami."

Fenomena ini menimbulkan pergeseran makna yang dapat menyebabkan kesalahpahaman. Contohnya, dalam percakapan anak-anak, sering terdengar ungkapan seperti, "Ayah kita tadi pagi berangkat kerja sudah telat." Maksudnya adalah "ayah saya," tetapi kata "kita" justru menimbulkan kesan bahwa ayah tersebut adalah ayah kedua anak yang berbicara.

Dulu, nenek moyang kita juga gemar menyembunyikan identitasnya, tetapi hal itu dilakukan untuk tujuan mulia: agar tidak terkesan menyombongkan diri. Itulah sebabnya banyak karya anonim yang tidak diketahui secara pasti siapa penciptanya, sehingga dianggap sebagai milik bersama.

Pentingnya Kreativitas dan Kecermatan Berbahasa

Seiring dengan era globalisasi, bangsa Indonesia perlu meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan di berbagai bidang, termasuk kebahasaan. Bahasa, terutama bahasa Indonesia, selain berfungsi sebagai sarana komunikasi, juga berperan sebagai pendorong terciptanya peradaban baru yang santun.

Kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya mencerminkan intelektualitas seseorang, tetapi juga menunjukkan kepekaan sosial dan budaya. Individu yang cermat dalam berbahasa cenderung lebih mampu membangun hubungan sosial yang harmonis dan efektif. 

Penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berpotensi memicu konflik. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tata bahasa dan etika berbahasa menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan.

Kreativitas dalam berbahasa dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti permainan kata, penggunaan metafora, peribahasa, dan pantun. 

Dalam dunia sastra, misalnya, penggunaan bahasa yang kreatif mampu memperkaya makna dan menambah keindahan suatu karya. Seorang penulis atau penyair yang memiliki kreativitas tinggi dalam berbahasa mampu menciptakan karya yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai filosofis dan estetis tinggi.

Dalam bidang jurnalistik, kreativitas berbahasa juga memegang peranan penting. Jurnalis yang memiliki kemampuan bahasa yang baik dapat menyajikan berita secara jelas, menarik, dan tidak membingungkan pembaca. 

Sayangnya, di era digital ini, banyak media yang kurang memperhatikan kaidah kebahasaan dalam menyampaikan informasi. Sering ditemukan judul berita yang ambigu atau bahkan menyesatkan akibat penggunaan bahasa yang tidak efektif.

Dalam dunia pendidikan, kreativitas berbahasa harus terus dikembangkan agar siswa tidak hanya mampu memahami teori kebahasaan, tetapi juga mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Pembelajaran bahasa yang monoton dan kaku dapat membuat siswa kehilangan minat untuk belajar. Oleh karena itu, metode pengajaran yang interaktif dan inovatif perlu diterapkan agar siswa lebih menikmati proses pembelajaran bahasa.

Selain itu, bahasa juga berperan dalam membangun identitas nasional. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seharusnya menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, kenyataannya, penggunaan bahasa asing yang berlebihan dalam berbagai aspek kehidupan sering kali menggeser posisi bahasa Indonesia. Fenomena ini dapat menyebabkan lunturnya kecintaan terhadap bahasa nasional serta melemahkan identitas kebangsaan.

Simpulan

Kreativitas berbahasa bukan hanya sekadar kemampuan menciptakan variasi dalam penggunaan kata dan struktur kalimat, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap kaidah bahasa dan etika berkomunikasi. Kreativitas yang tidak didukung oleh kecermatan berbahasa justru dapat menimbulkan kesalahpahaman dan mengurangi efektivitas komunikasi.

Sudah saatnya kita lebih peduli terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar bahasa kita tetap lestari serta berfungsi optimal sebagai sarana komunikasi yang efektif dan sebagai kebanggaan budaya bangsa.


Penulis adalah Pemimpin Redaksi Jurnal Aceh Edukasi dan Guru SMA Negeri 1Lhokseumawe 







Berita Terkait

Posting Komentar

0 Komentar