Sumber: Kemenag, Travel Kompas
Oleh: Muklis Puna
Empat putaran bumi,
kaki suci menapak debu Thaif,
Bersama sahabat setia, menyusuri kawah sunyi.
Busur api mengupas peluh,
Perintah Ilahi ditebar, batu dan kerikil menyapa.
Bersama sahabat setia, menyusuri kawah sunyi.
Busur api mengupas peluh,
Perintah Ilahi ditebar, batu dan kerikil menyapa.
Ya Rasulullah, kekasih semesta!
Satu purnama duka, Thaif menjadi saksi,
Wajah-wajah bebal, k3au sapa dengan kasih,
Senyum merekah, menyulam cinta Ilahi,
Tanpa peduli Yahudi, Nasrani, dan Majusi,
Sepasang bulan sabit, menebar keikhlasan abadi
Satu purnama duka, Thaif menjadi saksi,
Wajah-wajah bebal, k3au sapa dengan kasih,
Senyum merekah, menyulam cinta Ilahi,
Tanpa peduli Yahudi, Nasrani, dan Majusi,
Sepasang bulan sabit, menebar keikhlasan abadi
Baca Juga: .Puisi: Purnama Tak Terjamah
Langkah-langkah suci, menegakkan janji Illahi,
Setiap bersua , iman ditawarkan, menuju surga abadi.
Perjuangan "La Ilahaillallah", tak semulus mimpi,
Cacian berbalut murka, menampar telinga suci.
Setiap bersua , iman ditawarkan, menuju surga abadi.
Perjuangan "La Ilahaillallah", tak semulus mimpi,
Cacian berbalut murka, menampar telinga suci.
Pagi itu, di ujung kaki Thaif berpijak,
Kilat dan petir menyambut,
Kilat dan petir menyambut,
kaum kafir melingkar garang.
Pagar betis menghadang, dendam diasah tajam.
Pagar betis menghadang, dendam diasah tajam.
Laksana serdadu di medan laga,
jiwa-jiwa dahaga iman menerjang.
Tangan menggenggam batu,
Tangan menggenggam batu,
mata mencari sasaran murka.
Rasulullah, kekasih Allah,
dikurung amarah membara.
Batu-batu terbang,
Batu-batu terbang,
menghujam wajah suci sang Nabi.
Baca Juga: Puisi: Aku dan Kau: Terpenjara Dalam Raga"
Di tengah amukan bara,
membakar dendam membabi buta,
Penghulu alam bersabda,
Penghulu alam bersabda,
"Jika kalian menolak, biarkan Aku pergi."
Gayung tak bersambut,
Gayung tak bersambut,
Batu terus melumat tubuh suci.
Mendung meludah batu, langit Thaif berduka.
Hari meredup, matahari pulang ke peraduan,
Bulan bermuram durja, langit seakan runtuh.
Rasulullah lolos, dari amukan Thaif yang kejam,
Lapar mendera, dahaga menguras kerongkongan.
Bulan bermuram durja, langit seakan runtuh.
Rasulullah lolos, dari amukan Thaif yang kejam,
Lapar mendera, dahaga menguras kerongkongan.
Tubuh suci penuh luka,
kepala lebam bersimbah duka.
Sedih mengurat cerita,
Sedih mengurat cerita,
di tanah Thaif berbalut duka
Lhokseumawe, 16 Maret 2025
0 Komentar