Oleh: Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
Salah satu hal yang hingga kini masih mengganggu keharmonisan "rumah tangga" bahasa dan sastra adalah anggapan bahwa keduanya tidak saling menguntungkan.
Dalam pembakuan bahasa, misalnya, sastra sering dianggap sebagai perusak bahasa. Penggunaan bahasa dalam karya sastra tidak dipandang sebagai proses kreatif pengarangnya, melainkan dicurigai sebagai suatu "keganjilan" berbahasa.
Isu ketidakharmonisan hubungan bahasa dan sastra ini juga merebak di dunia pendidikan. Beberapa waktu lalu, muncul gagasan untuk memisahkan pengajaran sastra dari mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP dan SMA.
Mata pelajaran bahasa Indonesia, secara struktural menaungi pengajaran sastra, dianggap oleh sebagian pihak (khususnya pecinta sastra) telah "mencaplok" jatah pengajaran sastra.
Tulisan ini tidak bertujuan menghidupkan kembali isu ketidakharmonisan tersebut, melainkan untuk melihat lebih jauh hubungan yang sebenarnya antara bahasa dan sastra.
Hakikat Sastra
Jika masih ada anggapan bahwa sastra merupakan "perusak" bahasa, kemungkinan besar anggapan tersebut muncul karena kurangnya pemahaman terhadap hakikat sastra sebagai seni berbahasa.
Sebagaimana seni lainnya, sastra adalah karya kreatif. Oleh karena itu, karya sastra harus dipandang sebagai hasil kreativitas berbahasa dari pengarangnya.
Hampir semua warga bahasa setuju bahwa ada karya sastra yang menggunakan bahasa secara amburadul adalah sebuah keniscayaan. Pengarang, pada dasarnya, adalah pengguna bahasa.
Seperti pengguna bahasa lainnya, tidak semua pengarang memiliki penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, hal ini tidak cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa sastra adalah perusak bahasa.
Sebaliknya, justru karena ingin berkomunikasi dengan pembaca, pengarang harus mengikuti norma yang ada dalam khasanah sastra dan budaya.
Kreasi bahasa yang terlalu subjektif, seperti dalam puisi-puisi eksperimental, dapat menyulitkan apresiasi pembaca. Oleh karena itu, sastra sebagai hasil kerja kreatif justru memiliki peluang besar untuk menjadi acuan dalam program perencanaan bahasa.
Seorang pengarang tentu akan menggunakan bahasa yang menurutnya paling mantap, sebab tanpa kemantapan itu, ia tidak akan berhasil sebagai sastrawan. Dengan demikian, sastra dapat menjadi model penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Untuk mewujudkan tersebut penulis mencoba mendeskripsikan melalui contoh berikut. Penggalan sajak "Doa" karya Chairil Anwar:
Pilihan kata "susah sungguh" pada larik pertama dan "penuh seluruh" pada larik kedua menunjukkan penggunaan bahasa yang cermat.
Diksi -diksi ini tidak hanya tepat dalam makna, tetapi juga menciptakan suasana sepi dan khusyuk, yang mendukung keseluruhan makna puisi. Persamaan bunyi yang muncul dari kombinasi diksi tersebut semakin memperkuat efek puitisnya.
Berbahasa dapat dianalogikan seperti orang berpakaian. Kualitas berpakaian tidak hanya ditentukan oleh bahan, warna, dan ukuran, tetapi juga oleh kesesuaian dengan situasi.
Sebagus apa pun pakaian renang dan pakain olahraga tetap tidak pantas digunakan dalam pesta pernikahan. Begitu pula, meskipun seseorang sudah memakai batik bermerek, ia tetap tidak menarik jika bajunya kedodoran. Demikian pula dalam berbahasa, ketepatan penggunaan sangat bergantung pada konteksnya.
Ragam Sastra
Pemakaian bahasa dalam sastra berbeda dari bahasa ilmiah karena perbedaan sikap dan tujuan komunikasi. Karya sastra dan karya ilmiah sama-sama menggunakan bahasa sebagai media ekspresi. Namun, baik sastrawan maupun ilmuwan memerlukan penguasaan bahasa untuk menyampaikan gagasannya dengan efektif.
Karya sastra umumnya bersifat final dan merupakan potret gagasan serta perasaan penulisnya. Memang, ada kalanya seorang sastrawan mengubah karyanya, seperti Chairil Anwar yang mengubah judul puisinya dari "Semangat" menjadi "Aku". Namun, secara umum, sastrawan cenderung membiarkan karyanya dalam bentuk aslinya.
Sebaliknya, ilmuwan dapat mengubah bahasanya, menambah keterangan, atau memperbaiki kesalahan pada karya yang dicetak ulang.
Dalam hal ini, ilmuwan menggunakan bahasa lebih objektif, sedangkan sastrawan menggunakan bahasa lebih subjektif. Efek pemakaian bahasa pada kedua bidang ini pun berbeda.
Sastrawan membiarkan tafsiran beragam atas karyanya, karena Ia mengungkapkan sesuatu secara subjektif.
Perhatikan penggalan puisi berikut:
Puisi ini dapat ditafsirkan bahwa "Engkau" berperan sebagai penerang, penuntun jalan hidup manusia, atau bahkan tempat tujuan yang menunggu kedatangan seseorang. Tafsirannya dapat bermacam-macam.
Sebaliknya, dalam bahasa ilmiah, penafsiran ganda dihindari.
Coba perhatikan contoh berikut:
Tahun ini, tanaman karet yang berumur enam tahun merupakan 5,46 persen dari seluruh tanaman di perkebunan seluas 32.180,42 hektar.
Kutipan ini hanya memiliki satu tafsiran, yakni bahwa tanaman karet yang berusia enam tahun mencakup 5,46 persen dari seluruh tanaman di perkebunan tersebut. Angka-angka yang digunakan menegaskan keobjektifan fakta.
Jika bahasa ilmiah diubah menjadi lebih subjektif, maka akan muncul ketidakjelasan:
Tahun ini, tanaman karet yang masih agak muda jumlahnya hanya sedang-sedang saja di perkebunan yang sangat luas itu.
Pernyataan ini tidak memberikan informasi konkret karena "agak muda", "sedang-sedang saja", dan "sangat luas" bersifat subjektif dan dapat ditafsirkan secara berbeda oleh pembaca.
Sastrawan juga sering menggunakan metafora atau perumpamaan untuk menggambarkan suatu keadaan, sedangkan ilmuwan menggunakan bahasa yang lebih langsung.
Contoh perbedaan ini terlihat pada dua kalimat berikut:
(1) Pagi itu orang-orang mendekapkan tangannya, berusaha membungkus bagian tubuh yang dapat dijangkaunya. Badan yang menahan gigilan sesekali berguncang-guncang.
(2) Pada pagi hari, antara pukul 04.00 hingga 08.00, suhu mencapai 19 derajat Celsius.
Kalimat pertama menggambarkan suasana dingin secara implisit melalui reaksi manusia terhadap suhu dingin, sementara kalimat kedua menyampaikan informasi secara langsung dengan data kuantitatif.
Baik dalam sastra maupun dalam bahasa ilmiah, penggunaan ungkapan baru dapat ditemukan. Dalam sastra, ungkapan baru sering digunakan untuk menciptakan kesegaran dan keaslian ekspresi.
Misalnya, Chairil Anwar menggunakan diksi "akanan", yang tidak lazim dalam bahasa sehari-hari:
Di sisi lain, dalam bahasa ilmiah, istilah baru biasanya disertai dengan definisi yang memperjelas maknanya.
Dari uraian di atas, jelas bahwa bahasa sastra dan bahasa ilmiah memiliki perbedaan mendasar. Keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung, apalagi disimpulkan bahwa sastra merusak bahasa.
Sebaliknya, sastra justru dapat menjadi acuan bagi pemakaian bahasa yang baik dan benar dalam konteksnya masing-masing.
Simpulan;
Bahasa dan sastra memiliki hubungan yang saling melengkapi, bukan saling merusak. Sastra justru dapat menjadi model penggunaan bahasa yang baik dan benar melalui kreativitas berbahasa yang tetap mengikuti norma sastra dan budaya.
Perbedaan antara bahasa sastra dan bahasa ilmiah terletak pada tujuan dan cara penyampaiannya. Bahasa sastra cenderung subjektif, penuh metafora, dan memungkinkan berbagai tafsiran, sedangkan bahasa ilmiah bersifat objektif, langsung, dan menghindari ambiguitas.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Jurnal Aceh Edukasi dan Guru SMA Negeri 1 Lhokseumawe
0 Komentar