Sumber:dreamina.capcut.com
Oleh: Muklis Puna
Bulan muncul perlahan,
bagaikan sabit yang memotong malam,
merayap turun menuju purnama.
Seribu bulan seakan tenggelam dalam dada
bagaikan sabit yang memotong malam,
merayap turun menuju purnama.
Seribu bulan seakan tenggelam dalam dada
Baca Juga : Puisi: Di Tengah Kabut Negeri
Di ujung lorong yang kelam,
Aku mulai merapikan diri.
Malam berkeringat, mengalunkan irama langit.
Dada yang gersang tenggelam dalam dzikir,
Sementara lubang gelap menghadang langkahku.
Aku mulai merapikan diri.
Malam berkeringat, mengalunkan irama langit.
Dada yang gersang tenggelam dalam dzikir,
Sementara lubang gelap menghadang langkahku.
Malaikat-malaikat datang silih berganti,
Membawa amal yang sudah dilipat empat gandakan
Membawa amal yang sudah dilipat empat gandakan
Lalu digantungkan di kandil aras .
Matahari terlalu cepat menelan malam,
dan aku berjalan perlahan, melepaskan segala kerinduan.
Matahari terlalu cepat menelan malam,
dan aku berjalan perlahan, melepaskan segala kerinduan.
Baca Juga: Puisi: Aku dan Kau: Terpenjara Dalam Raga"
Wahai bulan yang penuh berkah,
Peluklah aku dalam cahaya-Mu.
Terangi aku dengan kasih yang tak pernah padam.
Bersihkan noda dalam jiwaku,
Satukan kembali wajah yang terpecah.
Peluklah aku dalam cahaya-Mu.
Terangi aku dengan kasih yang tak pernah padam.
Bersihkan noda dalam jiwaku,
Satukan kembali wajah yang terpecah.
Wahai bulan yang menjadi idola umat,
Dua belas purnama engkau melintas.
Namun, Aku belum sempat menata diriku.
Dua belas purnama engkau melintas.
Namun, Aku belum sempat menata diriku.
Lhokseumawe, Maret 2025
0 Komentar