Sumber: Serambinews.com
Muklis Puna
Serat matahari samar di ufuk timur,
Dingin perlahan melepas pagi.
Dalam kepompong kusam,
Ia menyusur celah sinar mentari,
Ransel kumal berisi serpihan ilmu.
Puisi: Syawal Menyapa, Doa Menggema
Motor butut menjerit-jerit dicambuk terjal,
Jalan berkelok, lereng menari dalam bayang.
Tubuh ringkih, balutan plastik digigit angin,
Lilin kecil sayup-sayup diterpa kabut.
Guru honorer tak bergaji mengayuh hidup,
Cita-cita tertulis di buku saku tak berjudul.
Mengharap secercah rupiah
Namun anak negeri dijunjung melambung.
Kemarin malam debat penguasa menyeruak,
Program pembangunan merambah telinga.
Ia menatap layar kaca berwarna,
Matanya berkaca-kaca.
Butir-butir visi disimak,
Namun statusnya tak pernah dibongkar.
Puisi: Purnama Tak Terjamah
Guru honorer mengunyah kisah,
Pengabdiannya tanpa koma.
Kini, dengan gaya santai ia melambai,
Menghalau kisah penguasa yang berebut tahta.
Pada tangga menuju langit ia bersandar,
Biarkan debat larut berlarung.
Lalu menuju kamar pengap,
Besok pagi anak negeri
menyambut ria di pintu kelas.
Lhokseumawe, April 2025
0 Komentar